8 Pakan Alami Ikan Nila: Kandungan Protein, Dosis, dan Cara Pemberiannya

pakan ikan alami, Sumber: googleusercontent.com

Pakan alami ikan nila yang paling efektif adalah azolla, lemna, cacing sutra, daphnia, daun singkong, kangkung, daun talas, dan lumut. Kandungan proteinnya berkisar 14 sampai 57 persen tergantung jenis. Pakan alami sebaiknya diberikan sebagai pelengkap 20 sampai 25 persen dari total pakan, bukan pengganti pelet sepenuhnya.

Pakan alamiProtein (berat kering)Paling cocok untukCara pemberian
Cacing sutra41–57%Larva dan benih di bawah 3 cmDiberikan hidup, 2 kali sehari
Daphnia (kutu air)50–66%Larva dan benihDitebar hidup di kolam pendederan
Daun singkong27–34%Nila ukuran sedang ke atasDicacah atau difermentasi, maksimal 10% total pakan
Azolla24–31%Nila mulai umur 1 bulanDitebar di permukaan, sekitar 7% bobot biomassa
Lemna (mata lele)18–43%Semua ukuranSegar, sampai 25% dari total pakan
KangkungSumber serat & vitaminNila sedang sampai dewasaDaun muda, 2–3 kali seminggu
Lumut & perifitonBervariasiSemua ukuranDibiarkan tumbuh di kolam
Daun talassekitar 14% (terfermentasi)Pengisi, bukan sumber proteinDirebus dulu untuk hilangkan getah

Kenapa Nila Cocok Diberi Pakan Alami

Pakan menyerap porsi terbesar biaya budidaya. Menurut Trubus, sekitar 60 persen biaya produksi ikan konsumsi habis untuk pakan. Sumber lain menyebut angkanya bisa mencapai 60 sampai 70 persen.

Nila punya keunggulan yang tidak dimiliki lele atau patin: ikan ini omnivora dan justru lebih menyukai pakan tumbuhan. Di habitat aslinya, nila memakan plankton, perifiton, dan tumbuhan air lunak. Artinya memberi pakan alami bukan memaksa nila makan sesuatu yang asing, tapi mengembalikannya ke pola makan alaminya.

Sebagai acuan, SNI produksi benih ikan nila hitam kelas benih sebar menganjurkan pakan dengan protein 20 sampai 25 persen untuk tahap pendederan, dosis 3 persen dari bobot biomassa per hari, diberikan tiga sampai empat kali sehari. Angka itu yang jadi patokan saat mencampur pakan alami dengan pelet.

Delapan Jenis Pakan Alami dan Dosisnya

1. Azolla

Azolla

Azolla adalah paku air yang mengapung, banyak ditemukan di sawah dan kolam tergenang. Kandungan proteinnya 24 sampai 31 persen berat kering, dengan lisin 0,42 persen, lebih tinggi dibanding jagung, dedak, maupun beras pecah.

Yang membuat azolla menarik adalah kecepatan tumbuhnya. Pada kondisi optimal, laju pertumbuhannya mencapai 35 persen per hari. Artinya satu kolam kultur kecil bisa memasok kebutuhan harian secara berkelanjutan.

Penelitian di Politeknik Kelautan dan Perikanan Bone pada 2023 menguji tiga dosis azolla segar untuk benih nila selama 60 hari. Dosis 7 persen dari bobot biomassa memberi hasil terbaik: pertambahan bobot 5,89 gram, pertambahan panjang 3,55 cm, dan sintasan 76,67 persen.

Yang perlu Anda tahu sebelum mengganti pelet dengan azolla Pada penelitian yang sama, FCR terbaik yang dicapai azolla adalah 5,93. Sebagai pembanding, pakan pelet komersial untuk nila umumnya berada di kisaran 1,2 sampai 1,5. Artinya azolla butuh jauh lebih banyak massa pakan untuk menghasilkan satu kilogram daging ikan. Ini masuk akal karena azolla segar kandungan airnya sangat tinggi. Kesimpulannya, azolla sangat baik sebagai pelengkap dan penghemat, tapi tidak cocok dijadikan pakan tunggal kalau Anda mengejar waktu panen.

Cara pemberian: tebar langsung di permukaan air. Nila mulai umur satu bulan sudah bisa diberi azolla. Bentuk kering punya kandungan protein lebih tinggi dibanding basah, karena kadar airnya sudah berkurang.

2. Lemna atau Mata Lele

Lemna atau Mata Lele

Ini jenis yang paling sering terlewat, padahal justru salah satu yang terbaik untuk nila. Di Indonesia jenisnya adalah Lemna perpusilla, dikenal dengan sebutan lokal mata lele.

Kandungan proteinnya 18 sampai 43 persen berat kering. Yang lebih penting, lemna punya serat kasar paling rendah di antara tanaman air lain dan teksturnya lunak dari daun sampai akar. Akibatnya tingkat kecernaannya tinggi — ikan benar-benar menyerap nutrisinya, bukan sekadar mengisi perut.

Temuan paling berguna dari riset lemna Ilyas dan kawan-kawan (2014) menguji kombinasi 75 persen pelet ditambah 25 persen Lemna perpusilla segar pada ikan nila. Hasilnya pertumbuhan bobot mutlak 30,95 gram, dan tidak berbeda nyata dengan pemberian pelet 100 persen. Dengan kata lain, seperempat pelet bisa diganti lemna tanpa kehilangan pertumbuhan. Ini angka yang bisa langsung Anda pakai untuk menghitung penghematan.

Lemna juga bisa diolah jadi tepung. Penelitian di UGM pada 2019 mencatat tepung lemna mengandung protein 24,91 persen, dan bisa menggantikan tepung kedelai sampai 15 persen dalam formulasi pakan nila merah ukuran 7 sampai 9 cm.

3. Cacing Sutra

Cacing sutra, Sumber: unair.ac.id
Cacing sutra, Sumber: unair.ac.id

Cacing sutra atau Tubifex adalah pakan alami dengan protein tertinggi di daftar ini. Kandungannya mencapai 57 persen, dengan lemak 13,3 persen, serat kasar hanya 2,04 persen, dan abu 3,6 persen. Sumber lain mencatat angka protein 41,1 persen, jadi anggap rentangnya 41 sampai 57 persen tergantung media kulturnya.

Cacing sutra mengandung 13 jenis asam amino, tujuh di antaranya esensial. Serat kasarnya yang sangat rendah membuatnya mudah dicerna larva yang sistem pencernaannya belum sempurna.

Ukuran tubuhnya kecil dan sesuai bukaan mulut larva serta benih. Untuk Anda yang membeli bibit nila ukuran larva atau 1–2 cm, ini pakan yang paling tepat di minggu-minggu pertama.

Cara pemberian: berikan dalam keadaan hidup, dua kali sehari, secukupnya sampai bibit berhenti aktif menyambar. Lebih aman mengultur sendiri daripada mengambil dari alam, karena media hidupnya bisa Anda kontrol.

4. Daphnia dan Moina (Kutu Air)

Daphnia dan Moina (Kutu Air)

Daphnia mengandung protein 50 sampai 66 persen dengan lemak 4 sampai 6 persen. Angka protein itu bahkan menyaingi cacing sutra.

Tapi ada satu hal yang jarang disebutkan. Daphnia punya dinding tubuh dan cangkang yang relatif tebal, sehingga lebih sulit dicerna dibanding cacing sutra. Pada penelitian di benih gurame, sintasan dengan pakan Tubifex mencapai 77,08 persen, sementara Daphnia 72,92 persen.

Kesimpulan praktisnya: kalau keduanya tersedia, cacing sutra lebih unggul untuk fase larva. Daphnia tetap sangat berguna, terutama karena lebih mudah dikultur sendiri di bak terpisah.

5. Daun Singkong

Daun Singkong

Daun singkong punya protein kasar 27 sampai 34 persen, tertinggi di antara dedaunan yang lazim dipakai pembudidaya. Selain protein, kandungannya mencakup lemak 7 sampai 13 persen, serat kasar 12 sampai 17 persen, dan lisin 2 persen.

Peringatan yang wajib dibaca Daun singkong mengandung asam sianida. Pemberiannya harus dibatasi maksimal 10 persen dari total pakan untuk mencegah keracunan. Serat kasarnya juga tinggi sehingga sulit dicerna. Fermentasi sebelum diberikan akan menurunkan serat kasar sekaligus mengurangi kandungan sianidanya.

Penelitian pada pakan buatan menemukan kombinasi 75 persen tepung ikan dengan 25 persen tepung daun singkong memberi pertumbuhan paling optimal pada nila.

6. Kangkung

Kangkung

Kangkung mudah tumbuh dan mudah didapat, tapi posisinya berbeda dari lima jenis sebelumnya. Kangkung adalah sumber serat dan vitamin, bukan sumber protein utama.

Nila menyukai daun kangkung yang masih muda dan segar. Berikan dua sampai tiga kali seminggu sebagai selingan dari pakan utama, untuk nila ukuran sedang sampai dewasa. Banyak pembudidaya menanam kangkung air langsung di pinggir kolam supaya pasokannya selalu ada.

Jangan berharap kangkung mempercepat pertumbuhan. Fungsinya menjaga kesehatan pencernaan dan menekan biaya, bukan memacu bobot.

7. Daun Talas

Daun Talas

Di sini kami perlu jujur, karena banyak artikel melebih-lebihkan daun talas.

Uji proksimat pada daun talas terfermentasi menunjukkan kandungan protein hanya sekitar 14,36 persen. Penelitian yang sama menyimpulkan bahwa pakan buatan berbahan daun talas belum memenuhi kadar protein yang baik untuk pertumbuhan benih ikan nila.

Artinya daun talas layak dipakai sebagai pengisi dan sumber serat, terutama karena murah dan berlimpah. Tapi jangan diandalkan sebagai sumber protein, apalagi untuk fase benih.

Kalau tetap dipakai, rebus atau keringkan dulu untuk menghilangkan getahnya. Getah talas berisiko mengganggu pencernaan ikan.

8. Lumut dan Perifiton

Lumut dan Perifiton

Lumut yang tumbuh di dinding kolam sering dianggap pengganggu, padahal nila memakannya. Perifiton — lapisan mikroorganisme yang menempel di permukaan kolam — juga bagian dari pakan alami nila di habitat aslinya.

Teksturnya lunak dan mudah dicerna. Tidak perlu diberikan, cukup dibiarkan tumbuh. Banyak pembudidaya justru sengaja menjaga kolamnya agak berlumut, terutama saat musim hujan ketika pasokan hijauan lain berkurang.

Satu catatan: lumut dan alga ikut mengonsumsi oksigen pada malam hari. Kalau kolam Anda padat tebar tinggi tanpa aerator, lumut yang terlalu tebal justru berisiko.

Pakan Fermentasi Buatan Sendiri

Kalau pakan alami segar belum cukup, langkah berikutnya adalah membuat pakan sendiri dari bahan lokal lalu difermentasi. Fermentasi memecah bahan yang sulit dicerna, sehingga nutrisinya lebih terserap.

Bahan dasar dan kandungannya

BahanProteinFungsi
Ampas tahusekitar 8,7%Sumber protein nabati, murah dan mudah didapat
Dedak halus atau bekatulsekitar 13,5%Sumber serat dan pengisi volume
Tepung jagungSumber karbohidrat sebagai energi
Tepung ikantinggiProtein hewani sekaligus pemberi aroma perangsang nafsu makan
EM4 PerikananBakteri pemfermentasi
Molase atau gula merah cairSumber energi bagi bakteri EM4

Resep untuk 10 kg pakan

  1. Campur bahan kering: 5 kg ampas tahu, 3 kg dedak, 1 kg tepung jagung, dan 1 kg tepung ikan. Komposisi ini menghasilkan pakan dengan kadar protein di kisaran 30 persen.
  2. Larutkan starter: 5 sampai 10 ml EM4 per liter air bersih non-kaporit, ditambah 50 sampai 100 ml molase. Aduk sampai larut sempurna.
  3. Tuangkan larutan starter ke bahan kering sedikit demi sedikit sambil diaduk sampai merata. Tingkat kelembapan sekitar 25 persen sudah cukup.
  4. Masukkan ke drum bertutup rapat. Fermentasi secara anaerob selama 7 sampai 10 hari.
  5. Cek keberhasilannya dari aroma. Fermentasi yang berhasil beraroma khas seperti alkohol dan teksturnya lebih halus. Kalau baunya busuk, prosesnya gagal dan jangan diberikan ke ikan.

Uji coba lapangan di Bali mencatat dedak padi terfermentasi berhasil menggantikan sekitar 20 persen total kebutuhan pakan nila selama satu siklus pemeliharaan penuh, sekitar empat bulan. Takaran yang dipakai: EM4 4 persen dari bobot dedak, molase 4 persen, dan air 25 persen.

Berapa Biaya yang Bisa Dihemat

Mari dihitung dengan angka yang sudah kita punya, bukan klaim.

KomponenAngkaSumber
Porsi pakan dari total biaya produksisekitar 60%Trubus
Substitusi lemna tanpa penurunan pertumbuhan25% dari pakanIlyas dkk, 2014
Substitusi dedak fermentasi terbukti di lapangan20% dari pakanUji coba lapangan, Bali
Penghematan terhadap total biaya produksisekitar 12–15%Perhitungan dari angka di atas
Cara membaca angka ini Kalau pakan menyerap 60 persen biaya produksi, dan Anda berhasil mengganti 20 sampai 25 persen kebutuhan pakan dengan pakan alami atau fermentasi, penghematannya sekitar 12 sampai 15 persen dari total biaya produksi. Angka ini lebih rendah dari klaim yang sering beredar. Kami memilih menampilkan hitungan yang bisa ditelusuri daripada angka besar tanpa dasar. Penghematan 12 sampai 15 persen sudah sangat berarti untuk usaha budidaya, dan yang lebih penting, angka ini realistis untuk dikejar.

Pakan Alami Menurut Fase Umur Nila

Pakan alami tidak bisa diberikan sembarangan di semua fase. Bukaan mulut dan kemampuan cerna ikan berubah seiring ukurannya.

Fase / ukuranPakan alami yang cocokYang harus dihindari
Larva sampai 1 cmDaphnia, Moina, cacing sutraSeluruh jenis hijauan. Belum bisa dicerna
1–3 cmCacing sutra, Daphnia, lemna yang dicacah halusDaun singkong, daun talas
3–5 cmLemna, azolla halus, cacing sutraDaun singkong utuh, daun talas mentah
5–8 cmAzolla, lemna, kangkung muda, lumutDaun singkong melebihi 10% total pakan
Di atas 8 cm sampai panenSemua jenis, termasuk daun singkong terfermentasiPemberian hijauan berlebihan tanpa kontrol

Empat Kesalahan yang Sering Terjadi

Mengganti pelet sepenuhnya

Ini kesalahan paling mahal. FCR pakan alami jauh lebih tinggi dibanding pelet, seperti terlihat pada penelitian azolla dengan FCR 5,93. Menghapus pelet berarti memperpanjang waktu panen, dan biaya yang dihemat di pakan akan hilang di biaya waktu, listrik, dan risiko.

Batas aman yang didukung data: 20 sampai 25 persen dari total pakan.

Memberi hijauan berlebihan

Sisa daun dan batang yang tidak dimakan harus diangkat rutin. Kalau dibiarkan menumpuk, bahan organik itu membusuk, menaikkan amonia, dan menurunkan oksigen terlarut.

Memberi daun singkong tanpa perlakuan

Asam sianida pada daun singkong nyata dan pemberiannya harus dibatasi maksimal 10 persen dari total pakan. Fermentasi atau pelayuan sebelum diberikan sangat dianjurkan.

Mengandalkan pakan alami untuk fase benih

Benih butuh protein tinggi dan mudah dicerna. Hijauan tidak memenuhi keduanya. Untuk fase ini, gunakan cacing sutra atau Daphnia, dan pertahankan pelet sebagai pakan utama.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa pakan alami ikan nila yang paling bagus?

Untuk fase benih, cacing sutra dengan protein 41 sampai 57 persen. Untuk fase pembesaran, lemna karena serat kasarnya paling rendah sehingga kecernaannya tinggi, dan terbukti bisa menggantikan 25 persen pelet tanpa menurunkan pertumbuhan.

Berapa dosis azolla untuk ikan nila?

Sekitar 7 persen dari bobot biomassa ikan per hari. Dosis ini memberi hasil terbaik pada penelitian benih nila selama 60 hari, dengan sintasan 76,67 persen.

Apakah ikan nila bisa dibudidayakan tanpa pelet sama sekali?

Bisa hidup, tapi tidak disarankan kalau Anda mengejar waktu panen. FCR pakan alami jauh lebih tinggi dibanding pelet, sehingga waktu sampai ukuran konsumsi jadi lebih panjang. Gunakan pakan alami sebagai pelengkap 20 sampai 25 persen.

Berapa protein daun singkong untuk pakan ikan nila?

27 sampai 34 persen protein kasar. Tapi pemberiannya dibatasi maksimal 10 persen dari total pakan karena mengandung asam sianida. Sebaiknya difermentasi dulu.

Apa itu lemna dan di mana bisa mendapatkannya?

Lemna adalah tanaman air kecil yang mengapung, di Indonesia dikenal sebagai mata lele. Jenisnya Lemna perpusilla. Bisa ditemukan di perairan tergenang dan mudah dikultur sendiri di bak terpisah karena pertumbuhannya cepat.

Berapa lama fermentasi pakan ikan nila dengan EM4?

7 sampai 10 hari dalam drum tertutup secara anaerob. Tanda berhasil adalah aroma khas seperti alkohol dan tekstur yang lebih halus. Kalau baunya busuk, fermentasi gagal.

Cacing sutra atau kutu air, mana yang lebih baik untuk benih?

Cacing sutra. Meski protein Daphnia bisa mencapai 66 persen, dinding tubuhnya lebih tebal sehingga lebih sulit dicerna. Pada uji di benih gurame, sintasan dengan cacing sutra 77,08 persen dibanding Daphnia 72,92 persen.

Berapa penghematan biaya dari pakan alami?

Sekitar 12 sampai 15 persen dari total biaya produksi, dengan asumsi pakan menyerap 60 persen biaya dan Anda mengganti 20 sampai 25 persennya dengan pakan alami.

Mulai dari Bibit yang Tepat

Pakan alami menekan biaya, tapi hasil panen tetap ditentukan oleh mutu bibit di awal. Bibit yang seragam ukurannya tumbuh lebih merata dan lebih efisien memanfaatkan pakan apa pun yang Anda berikan.

Nabila Farm menyediakan bibit ikan nila mulai ukuran larva sampai 5–7 cm, sudah melewati sortir grading, dengan pengiriman ke lebih dari 55 kabupaten dan kota di Indonesia. Cek daftar ukuran dan harganya di halaman jual bibit ikan nila, atau konsultasikan kebutuhan kolam Anda lewat WhatsApp.

Baca juga: Ukuran Bibit Ikan Nila

Maksimalkan Hasil Budidaya dengan Bibit Ikan Berkualitas

Dengan pakan yang maksimal dan tepat, bukan tidak mungkin budidaya ikan nila yang Anda lakukan akan berhasil. Hanya saja, Anda perlu tahu bahwa hasil panen yang optimal semata-mata bukan karena pakan saja, tetapi juga jenis bibit ikan nila yang dibesarkan.

Nah, Nabila Farm menyediakan bibit ikan nila yang Anda perlukan. Kami tidak hanya jual bibit ikan nila saja, tetapi juga berbagai jenis ikan lainnya untuk melengkapi budidaya yang Anda lakukan.

Jadi, tunggu apalagi, untuk urusan jual bibit ikan untuk budidaya, serahkan kepada Nabila Farm. Segera hubungi CS kami dan dapatkan penawaran bibit ikan berkualitas dengan harga terbaik!

Dapatkan bibit ikan nila super dan berkualitas!

Rujukan:

  • SNI 01-6141-1999, Produksi Benih Ikan Nila Hitam Kelas Benih Sebar, Badan Standardisasi Nasional
  • Hikmawati, Ilmiah, dan Rasnijal (2023), Pemberian Pakan Alami Azolla pinnata dengan Dosis Berbeda untuk Meningkatkan Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Benih Ikan Nila, Jurnal INSAN TANI, Politeknik Kelautan dan Perikanan Bone
  • Ilyas dkk (2014), kombinasi pelet dan Lemna perpusilla segar pada ikan nila
  • Yuditomo, F. (2019), Pengaruh Substitusi Tepung Kedelai dengan Tepung Lemna dalam Pakan terhadap Sintasan dan Pertumbuhan Nila Merah, Universitas Gadjah Mada
  • Solomon dan Okomoda (2012), kandungan protein Lemna sp.
  • Mandila dan Hidajati (2013), kandungan gizi cacing sutera Tubifex sp.
  • Ernawati dan Saidi (2020), Modul Teknik Budidaya Cacing Tubifex dan Daphnia sebagai Pakan Larva Ikan
  • Rully dkk (2013), Pengaruh Pemberian Pakan Alami Tubifex sp, Chironomus sp, Moina sp, dan Daphnia sp terhadap Pertumbuhan Benih Ikan Gurame
  • Fermentasi daun talas sebagai bahan baku pakan, uji proksimat, Jurnal Universitas Asahan
  • Trubus, Pakan Alami untuk Nila
  • Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Lemna sebagai alternatif pakan ternak